DENGAR
Sebelum bicara, sebelum menjawab, sebelum menilai — saya selalu berusaha dengar dulu. Bukan karena sopan, tapi karena di situ biasanya letak jawabannya.
INPUT / mendengar01 Saya Raka — perekam suasana, penulis lagu yang pernah berhenti, sound designer yang kembali ke studio, dan manusia yang berkali-kali harus menyusun ulang cara mendengarnya.
GEMA bukan portfolio. Ini arsip getaran tentang cara mendengar: dari gitar pinjaman, band SMA yang bubar, jingle jingle receh, kehilangan, sampai kembali ke meja mixing dan bab yang belum punya judul.
Alat, ruang, dan momen kecil yang pernah jadi bagian dari perjalanan suara saya.
Nama saya Raka. Sejak kecil saya bukan anak yang pandai menjelaskan perasaan. Yang saya bisa cuma: dengar → rasain → nyanyiin → lupa → mulai lagi.
Gitar pertama saya pinjaman. Band pertama saya bubar setelah tiga panggung. Setelah itu saya belajar sound design, ikut jingle receh, bikin scoring film pendek, mengajar privat, sampai sempat kerja kantor yang jauh dari musik. Dari luar kelihatan tidak fokus. Dari dalam, semua itu punya satu benang merah: keinginan supaya suara bisa bikin orang merasa ditemani.
Tahun 2023–2024 mengajari saya sisi lain. Ada fase saya berhenti menulis, berhenti merekam, dan cuma kerja karena tuntutan. Ada kehilangan, ada capek yang tidak bisa dijelaskan. Tahun 2026 bukan cerita comeback yang rapi. Ini lebih sederhana: saya mulai merekam lagi. Sedikit demi sedikit. Menyalakan DAW lagi. Bikin loop pendek. Merelease satu lagu tanpa malu-malu.
GEMA adalah ruang yang masih hidup. Bukan monumen untuk versi terbaik saya, tapi arsip semua versi: yang belajar, yang bubar, yang berhenti, yang balik, dan yang masih mencari bunyi yang tepat.
Peta obsesi yang terus berubah. Tiap kotak mewakili satu frekuensi yang sering saya kunjungi.
Empat pola yang terus muncul di hampir semua fase hidup saya.
Sebelum bicara, sebelum menjawab, sebelum menilai — saya selalu berusaha dengar dulu. Bukan karena sopan, tapi karena di situ biasanya letak jawabannya.
INPUT / mendengarSaya nggak bisa kerja cuma dengan kepala. Ada fase harus saya rasakan dulu, baru bisa saya terjemahkan jadi bunyi atau tulisan.
ENGINE / rasa + empatiMusik, tulisan, kode, gambar. Saya paling mengerti dunia saat tangan saya ikut membuat sesuatu dari apa yang saya rasakan.
OUTPUT / karyaSaya pernah kehilangan bunyi di kepala saya. Jadi skill paling personal yang saya punya bukan "selalu produktif", tapi tahu cara menyalakan lagi saat mati.
PROTOCOL / reset & rekam lagiKLIK UNTUK MEMBACA SINYAL
menunggu sinyal...
Bukan CV. Cuma beberapa track penting dari perjalanan yang panjang dan kadang sumbang.
Semua dimulai dari satu gitar pinjaman dan kaset yang selalu macet di tengah lagu. Saya belajar bahwa bunyi bisa menyimpan perasaan yang tidak bisa saya ucapkan.
Kami main di tiga panggung, lalu bubar karena semua orang punya jalan masing-masing. Saya belajar bahwa tidak semua hal harus selesai untuk jadi berarti.
Masuk ke dunia sound design dan scoring film pendek. Mulai ngerti bahwa keheningan juga bagian dari komposisi. Belajar mixing sambil tetap main gitar.
Ada fase saya berhenti menulis, berhenti merekam, dan cuma kerja untuk tuntutan. Bukan mati gaya — tapi lebih parah, mati rasa. Bukan chapter yang ingin saya ulang, tapi yang mengubah segalanya.
Saya mulai merekam lagi. Cuma loop pendek, sepanjang satu menit. Tidak untuk dirilis, cuma untuk menyapa diri sendiri. Perlahan-lahan bunyi itu kembali.
Bukan label. Bukan proyek sampingan. Bukan niche. GEMA lahir sebagai nama untuk semua suara yang selama ini saya simpan di folder yang belum selesai.
Saya bukan garis nada. Saya gema: kadang redup, kadang berisik, tapi selalu kembali ke sumbernya.
Scoring, lagu pendek, soundtrack film indie, jingle, kolaborasi, atau eksperimen bunyi yang belum punya nama — kirim pesan.
Kirim Sinyal